Marga Manihuruk berasal dari salah satu suku Batak yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Batak. Seiring berjalannya waktu, terutama pada masa kolonial dan pasca-kemerdekaan, banyak anggota marga Manihuruk yang merantau ke kota-kota besar untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan kesempatan yang lebih luas. Proses perantauan ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Batak yang dikenal dengan budaya “merantau” yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka.
Keputusan untuk merantau ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup. Pada masa itu, kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya menjadi tujuan utama tak terkecuali kota Batam, termasuk kita yang bermarga Manihuruk. Banyak dari kita yang meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di sektor perdagangan, pemerintahan, dan pendidikan. Namun, meskipun mereka sudah berada jauh dari tanah kelahiran, ikatan keluarga dan marga tetap menjadi hal yang sangat penting.
Pada awalnya, meskipun ada hubungan kekerabatan yang erat di antara sesama marga Manihuruk, belum ada organisasi atau wadah yang khusus untuk menyatukan. Perantauan yang tersebar di berbagai kota besar ini membuat mereka jarang bertemu dan lebih mengandalkan hubungan kekeluargaan yang lebih pribadi. Namun, perlahan-lahan muncul kesadaran akan pentingnya memperkuat ikatan ini dan menjalin komunikasi antar sesama anggota marga, baik yang ada di kampung halaman maupun yang merantau.
Pentingnya menjaga hubungan kekerabatan dalam marga Manihuruk mulai dirasakan semakin mendalam seiring dengan semakin banyaknya generasi muda yang terpisah dari akar budaya dan tradisi mereka. Oleh karena itu, berbagai pertemuan dan kegiatan kekeluargaan mulai digagas untuk memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di kalangan sesama marga. Seiring berjalannya waktu, organisasi yang mengusung nama marga Manihuruk mulai dibentuk, dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan memberikan wadah bagi anggota marga untuk saling mendukung dalam berbagai aspek kehidupan.
Pada awal abad ke-20, seiring dengan berkembangnya mobilitas penduduk dan perubahan sosial, Keinginan untuk tetap menjaga hubungan antar anggota marga Manihuruk dan melestarikan adat serta budaya Batak mendorong terbentuknya sebuah wadah untuk menjaga hubungan intim dan kekerabatan.